Trending

Di Hadapan Keluarga Korban, Pihak KM Virgo Beberkan Alasan Salvage Tak Bisa Terburu-buru

AUDIENSI: Suasana audiensi antara keluarga korban musibah tenggelamnya KM Virgo Transport 8 dengan pihak manajemen PT Virgo Karya Shipping, Basarnas, dan kepolisian di Ruang VIP Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Selasa (20/10/2026). Foto Dok : Rian


RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL – Proses pengangkatan (salvage) bangkai kapal KM Virgo Transport 8 yang tenggelam lima pekan lalu menghadapi sejumlah kendala teknis dan cuaca ekstrem di lapangan.

Pihak manajemen kapal mengungkapkan bahwa tindakan salvage tidak dapat dilakukan secara terburu-buru demi keselamatan tim penyelam serta menjaga kondisi jenazah korban yang kemungkinan masih berada di dalam palka.

​Hal tersebut terungkap dalam audiensi antara keluarga korban, manajemen PT Virgo Karya Shipping, Tim Basarnas, dan aparat kepolisian di Ruang VIP Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Selasa (20/10/2026).

​Juru Bicara PT Virgo Karya Shipping, Simson Rihi, membeberkan bahwa sebelum melangkah ke tahap pengangkatan utama, tim di lapangan tengah menjalankan prosedur SAR-Salvage.

Namun, proses penyisiran bawah air ini dihadapkan pada serangkaian hambatan berat. Seperti jarak pandang buruk akibat tumpahan minyak.

​Pencemaran oli dan tumpahan minyak di area lambung kapal menjadi masalah utama yang mengganggu visibility (jarak pandang) penyelam di bawah laut.

"Saat ini tim fokus membebas-netralkan bahan kimia dan tumpahan minyak di badan kapal menggunakan cairan khusus. Tumpahan ini sangat membatasi penglihatan penyelam, sehingga pembersihan harus dilakukan bertahap dari lambung atas," jelas Simson dihadapan pihak keluarga.

​

Selain masalah visibilitas, kondisi arus bawah air yang sangat kuat menyulitkan pergerakan tim penyelam. Penyelaman bebas (free diving) sama sekali tidak memungkinkan karena risiko penyelam tersapu arus.

​"Setiap penyelam wajib menggunakan tali pegangan. Ditambah lagi, ada sedikit pergerakan posisi bangkai kapal di dasar laut, sehingga kami meminta panduan (guidance) langsung dari Basarnas agar tindakan penyelaman tidak membahayakan jiwa penyelam," tuturnya.

​Faktor cuaca ekstrem dan gelombang tinggi di perairan juga memangkas durasi operasi penyelaman. Dalam beberapa kesempatan, tim hanya memiliki waktu efektif (working window) yang sangat singkat.

​"Seperti kemarin, kami hanya punya waktu sekitar 2,5 jam untuk menyelam sebelum cuaca tiba-tiba berubah buruk dan arus menjadi sangat deras," ungkapnya.

​Simson menegaskan, ketelitian ekstra ini diambil untuk mengedepankan aspek kemanusiaan. Perbedaan tekanan air yang ekstrem antara bagian dalam dan luar palka dikhawatirkan dapat merusak kondisi jenazah jika kapal langsung diangkat tanpa penyisiran mendalam terlebih dahulu.

​Proses salvage utama baru akan dieksekusi secara penuh setelah SAR-Salvage selesai dan lokasi dinyatakan clear oleh Basarnas. Pihak manajemen mengestimasikan proses pengangkatan kapal membutuhkan waktu hingga 30 hari, tergantung kondisi alam dan dinamika di lapangan.(ryn)

Lebih baru Lebih lama