![]() |
| Petugas SE 2026 sedang melakukan wawancara dengan salah seorang pemilik warung makanan di wilaya Desa Semangat Dalam, Kecamatan Alalak, Batola. (Foto: yadie asa) |
RILISKALIMANTAN.COM - Hingga memasuki minggu kedua Juli 2026, per tanggal 14 Juli Sensus Ekonomi 2026 (SE26) di wilayah Kabupaten Barito Kuala (Batola) sudah mencapai 45,9 persen. SE26 yang akan berakhir di akhir Agustus 2026 ini relatif tidak menemui kendala yang berarti di wilayah Batola. Namun ada 4 kecamatan dari 17 kecamatan yang ada memiliki tantangan tersendiri. Terutama menyangkut aspek topografi wilayah, demografis, mobilitas dan aksesibilitas.
Diakui oleh Rudy Noryadi, Kepala BPS Kabupaten Barito Kuala, saat ini petugas terus bergerak melakukan pencacahan di semua kecamatan yang ada. Menurutnya kendala dan tantangan di lapangan sudah dipetakan sebelumnya sehingga bisa diantisipasi saat petugas ke lapangan.
"Secara garis besar, ada tiga kendala utama yang kami hadapi di Barito Kuala. Pertama terkait tantangan geografis dan aksesibilitas. Topografi wilayah Barito Kuala yang didominasi oleh perairan, rawa, dan pasang surut sungai menjadi tantangan tersendiri. Di beberapa kecamatan, petugas kami harus mengandalkan transportasi air seperti klotok atau perahu cis. Waktu kunjungan pun tidak bisa sembarangan, mereka harus berpacu dengan kalender pasang surut air sungai agar bisa merapat ke lokasi usaha, seperti sentra penggilingan padi atau warung-warung di bantaran sungai," ujar Rudy Noryadi.
Selain mendata langsung pelaku Usaha Mikro Kecil (UMK) yang tersebar dari wilayah perkotaan, seperti Kecamatan Alalak hingga pelosok bantaran sungai, pihaknya juga terus mendampingi pengisian data bagi Usaha Menengah Besar (UMB) di wilayah Batola.
"Melihat ritme kerja tim di lapangan yang sangat baik, kami sangat optimis seluruh target pendataan pelaku usaha akan rampung 100 persen sebelum batas akhir penutupan pada 31 Agustus 2026 mendatang," tandas Rudy Noryadi lagi.
Adapun empat kecamatan yang tergolong perlu kerja ekstra bagi petugas lapangan yakni, Kecamatan Alalak, Kecamatan Tabukan, Kecamatan Kuripan dan Kecamatan Tabunganen.
Kecamatan Alalak yang berdekatan dengan Kota Banjarmasin populasi unit usahanya sangat padat. Mobilitas pelaku usaha di sini sangat tinggi, banyak pemilik usaha skala mikro atau industri rumahan pada siang hari tidak berada di tempat, karena memiliki pekerjaan lain atau sedang mendistribusikan barang.
"Petugas kami sering mendapati tempat usaha kosong di jam kerja normal. Untuk menyiasatinya, petugas harus melakukan kunjungan di akhir pekan," ujar Rudy.
Adapun tiga kecamatan lainnya yang memerlukan kerja ekstra bagi petugas adalah Kecamatan Kuripan, Tabukan, dan Tabunganen. Tantangan di tiga kecamatan ini murni karena bentang alam dan infrastruktur. Ketiga wilayah ini juga berada di jalur aliran Sungai Barito yang menghubungkan wilayah Provinsi Kalsel dan Kalteng. Jarak antardesa berjauhan dipisahkan rawa dan sungai.
"Di tiga wilayah ini petugas kami sangat bergantung pada transportasi air (klotok) dan pergerakannya mengikuti kondisi pasang surut air sungai. Waktu tempuh di perjalanan seringkali menghabiskan porsi yang jauh lebih besar daripada waktu untuk wawancara sensusnya sendiri," ujar Rudy Noryadi, sambil menambahkan di wilayah ini dihadapi juga kendala teknis, banyaknya area tanpa jaringan internet (blank spot).
Penulis: Khairiadi Asa
Tags:
Batola Kalsel

