Trending

Rupiah Melemah ke Rp17.880 per Dolar AS, Pasar Soroti Timur Tengah

MATA UANG: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (2/6/2026) setelah sehari sebelumnya mencatat penguatan cukup signifikan. Pergerakan mata uang Garuda terjadi di tengah perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan negosiasi antara AS dan Iran serta dinamika konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.06 WIB, rupiah di pasar spot berada di level Rp17.880,5 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 75,7 poin atau 0,42 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan itu terjadi setelah rupiah pada Senin (1/6/2026) berhasil menguat 76 poin atau 0,43 persen dan ditutup di level Rp17.805 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau naik tipis 0,01 persen ke posisi 99,21.

Pelaku pasar global saat ini masih mencermati berbagai perkembangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Ketidakpastian mengenai arah konflik dan proses diplomasi yang melibatkan sejumlah negara membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Mengacu pada data TradingView, sebagian besar mata uang Asia bergerak terbatas terhadap dolar AS. Investor memilih menunggu perkembangan terbaru terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai berpotensi memengaruhi sentimen pasar keuangan global.

Perhatian pasar juga tertuju pada langkah Presiden AS Donald Trump yang berupaya meredakan ketegangan antara Israel dan Hizbullah. Meningkatnya eskalasi konflik dikhawatirkan dapat mengganggu proses perundingan yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran.

Ekonom Senior sekaligus Strategis Mata Uang Senior Commonwealth Bank of Australia (CBA), Kristina Clifton, menilai peluang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran masih terbuka dalam waktu dekat. Menurutnya, kedua negara berpotensi mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap dan memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari.

"Kami memperkirakan AS dan Iran akan sepakat membuka kembali Selat Hormuz secara bertahap dan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari untuk melanjutkan perundingan mengenai pengayaan uranium Iran dalam pekan ini," ujar Clifton dalam risetnya.

Ia menilai perkembangan positif dari proses negosiasi tersebut dapat mengurangi daya tarik dolar AS sebagai aset aman atau safe haven yang selama ini menjadi pilihan investor saat ketidakpastian global meningkat.

"Berita baik mengenai berakhirnya perang akan membebani dolar AS karena mata uang tersebut merupakan aset lindung nilai saat ketidakpastian meningkat," kata Clifton.

Di pasar global, dolar AS bergerak relatif stabil terhadap yen Jepang pada level 159,67 yen. Sementara terhadap won Korea Selatan, mata uang AS tercatat melemah sekitar 0,1 persen ke posisi 1.511,50 won.

Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih menunggu kepastian arah perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Bagi investor, hasil negosiasi AS-Iran serta kondisi keamanan kawasan diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dalam waktu dekat.

Sumber: Investor.id

Lebih baru Lebih lama